Kamis, 06 Maret 2025

Buku Satu Abad Gereja Jago Ambarawa 1924 - 2024

Buku Satu Abad Gereja Jago Ambarawa 

1924 - 2024

    Buku "Satu Abad Gereja Jago Ambarawa 1924–2024" adalah sebuah karya yang didedikasikan untuk memperingati 100 tahun berdirinya Gereja Santo Yusup Ambarawa, yang akrab disebut sebagai Gereja Jago. Gereja ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, tetapi juga berperan signifikan dalam perkembangan komunitas Katolik di Ambarawa dan sekitarnya.


Latar Belakang dan Pendirian Gereja

Pada akhir abad ke-19, misi Katolik mulai merambah wilayah Jawa Tengah, termasuk Ambarawa. Pastor C. Franssen, Pr., adalah pastor pertama yang melayani di stasi Ambarawa. Pada tahun 1896, Ambarawa resmi berstatus sebagai paroki dengan Pastor F. de Bruijn, SJ., sebagai pastor kepala yang melayani selama 19 tahun (1872–1900). 

Pembangunan gereja yang sekarang dikenal sebagai Gereja Jago dimulai pada tahun 1923. Peletakan batu pertama dilakukan pada 27 Mei 1923, dan setahun kemudian, pada 27 April 1924, gereja ini resmi diberkati dan mulai digunakan sebagai tempat ibadah.

Arsitektur dan Simbolisme

Gereja Jago menampilkan arsitektur khas dengan pengaruh Belanda yang kuat, mencerminkan era kolonial saat itu. Salah satu ciri uniknya adalah simbol ayam jago yang ditempatkan di puncak menara gereja. Dalam tradisi Katolik, ayam jago melambangkan kesetiaan dan kewaspadaan, mengingatkan umat untuk selalu berjaga dan setia dalam iman. 

Peran dalam Masyarakat

Sejak awal berdirinya, Gereja Jago tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan. Gereja ini terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk penyediaan layanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat sekitar. Selama masa pendudukan Jepang, meskipun banyak tantangan, Gereja Jago tetap berdiri kokoh dan terus melayani umat. 



Buku Satu Abad Gereja Jago Ambarawa 1924-2024 ini berisi kisah-kisah syukur; yang ditulis ke dalam lima bagian utama (1)Berjalan Bersama Tuhan, (2) Berjalan sebagai Saudara, (3) Berjalan Bersama Semesta, (4) Berjalan Diiringi Doa, serta (5) Berjalan dari Bulan ke Bulan.

      

Tujuan dan Manfaat

Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi generasi mendatang untuk memahami dan menghargai warisan iman serta budaya yang telah dibangun oleh para pendahulu.
Dengan membaca buku ini kita diajak melihat miniatur dari dinamika perjalanan iman umat Gereja Jago bersama dengan Allah dan sesama. Melewati kerikil dan batu kehidupan serta menembus angin dan deru debu, kita para murid Kristus terus berjalan dan mengalami didikan Allah yang mendewasakan. Tidak jarang kita membentur batu karang kehidupan yang dapat membuat kita pesimis dan putus asa. Namun kita tidak menyerah. Iman pada Tuhan Yesus Kristus terus menyemangati dan mendorong kita untuk selalu memilih sikap optimistis, bangkit kembali, dan melanjutkan langkah.
Kita mohon berkat dan kekuatan dari Allah untuk perjalanan hidup selanjutnya. Kita juga mohon perlindungan dari Santo Yusup dan doa restu dari Bunda Maria. Tuhan Yesus, berjalanlah bersama kami, iringilah langkah hidup kami, dan jadilah perisai bagi jiwa kami.


Rabu, 05 Maret 2025

Arca Nandini - Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga


 Arca Nandini

Arca Nandi atau dikenal juga sebagai "Lembu Nandini" merupakan salah satu artefak bersejarah yang memiliki nilai penting dalam tradisi Hindu. Arca ini sering dikaitkan dengan Dewa Siwa, salah satu dewa utama dalam agama Hindu. Nandi, sebagai wahana atau kendaraan Dewa Siwa, melambangkan kesetiaan, kekuatan, dan pengabdian. Keberadaan Arca Nandi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, menjadi bukti adanya jejak sejarah dan budaya Hindu di kawasan ini, yang pada masa lampau merupakan salah satu pusat perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa Tengah

Arca Nandi terletak di area kampus Universitas Kristen Satya Wacana, tepatnya di depan kafetaria utama kampus (lapangan basket). Patung ini menampilkan wujud seekor lembu dalam posisi duduk. Bagian kepala arca terlihat masih dalam kondisi utuh, meskipun terdapat beberapa bagian yang menunjukkan tanda-tanda pelapukan dan pengelupasan cat.

Arca ini memiliki ukuran yang cukup besar untuk menarik perhatian orang yang melintasi area tersebut. Pengamatannya menunjukkan bahwa arca telah mengalami beberapa kali proses rekondisi. Hal ini dapat dilihat dari sisa-sisa cat hijau yang masih terlihat di bawah lapisan cat hitam pada permukaan arca. Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya pemeliharaan, meskipun belum dilakukan dengan pendekatan pelestarian yang sesuai dengan kaidah konservasi budaya.

Dalam mitologi Hindu, Nandi bukan hanya sekadar wahana Dewa Siwa tetapi juga penjaga gerbang kuil. Sebagai simbol kesetiaan dan pengabdian, Nandi sering digambarkan sebagai lembu yang duduk menghadap pintu masuk kuil Siwa, menjaga kedamaian dan sakralitas tempat tersebut. Kehadiran Arca Nandi di UKSW menandakan bahwa wilayah Salatiga pada masa lalu merupakan bagian dari peradaban Hindu yang berkembang di Jawa Tengah.

Selain sebagai peninggalan sejarah, arca ini juga memiliki nilai simbolis yang penting. Keberadaannya di area kampus Universitas Kristen Satya Wacana menunjukkan inklusivitas dan penghormatan terhadap warisan budaya yang ada di Indonesia. Hal ini memberikan pesan tentang pentingnya toleransi dan harmoni antar budaya serta agama di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Meskipun struktur utama Arca Nandi di UKSW masih dalam kondisi cukup baik, beberapa bagian arca menunjukkan tanda-tanda pelapukan, terutama pada permukaan patung. Proses pengecatan ulang yang dilakukan sebelumnya menjadi indikasi adanya niat baik untuk merawat artefak ini, namun belum dilakukan dengan pendekatan konservasi yang sesuai.

Pihak universitas diharapkan dapat bekerja sama dengan instansi terkait, seperti Dinas Kebudayaan atau Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), untuk melakukan proses restorasi dan pelestarian sesuai standar. Proses pelestarian ini penting agar arca tetap terjaga keasliannya sebagai bagian dari situs budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Selain itu, pemberian informasi edukatif dalam bentuk papan penjelasan di sekitar arca juga dapat menambah nilai pendidikan bagi pengunjung kampus.

Arca Nandi di Universitas Kristen Satya Wacana merupakan salah satu artefak penting yang mencerminkan jejak sejarah dan budaya Hindu di wilayah Salatiga. Keberadaannya di lingkungan kampus menjadi simbol toleransi, penghargaan, dan harmoni dalam keberagaman budaya Indonesia. Untuk melestarikan artefak ini, perlu adanya upaya pelestarian yang melibatkan pihak universitas, instansi pemerintah terkait, dan masyarakat.

Melalui pengemasan informasi yang menarik dan edukatif, Arca Nandi dapat menjadi salah satu ikon budaya yang tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa UKSW tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya menjaga warisan budaya.






Rabu, 19 Februari 2025

Serabi Ngampin - Ambarawa Traditional Food


Serabi Ngampin



Serabi Ngampin adalah kudapan tradisional khas Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang telah menjadi bagian dari budaya kuliner setempat sejak lama. Berbeda dengan serabi dari daerah lain, Serabi Ngampin memiliki ciri khas pada penyajiannya yang menggunakan kuah santan encer yang manis, hasil perpaduan santan dan gula merah. 



Proses pembuatan Serabi Ngampin masih mempertahankan metode tradisional, yaitu dengan menggunakan wajan kecil dari tanah liat yang dipanaskan di atas tungku kayu bakar. Adonan yang terdiri dari tepung beras dan santan dituangkan ke dalam wajan tersebut, kemudian ditutup dan dimasak hingga bagian bawahnya kering dan tidak lengket. 




Ukuran serabi ini relatif kecil dan tipis, dengan diameter yang cukup mungil sehingga biasanya disajikan dalam porsi beberapa buah serabi per piring. Teksturnya lembut dengan rasa gurih dari santan, yang berpadu harmonis dengan manisnya kuah gula merah. Beberapa penjual juga menawarkan variasi tambahan seperti tapai ketan atau durian, terutama saat momen-momen khusus seperti Lebaran.

 


Secara historis, Serabi Ngampin memiliki keterkaitan dengan tradisi lokal. Dahulu, serabi ini hanya dijual menjelang bulan Syaban, beberapa hari sebelum bulan puasa dimulai. Pada masa itu, para pemuda dan pemudi yang masih lajang akan berjalan-jalan dan menikmati serabi di malam hari, dengan harapan dapat menemukan jodoh melalui ritual ini. 

Hingga kini, Serabi Ngampin tetap menjadi kuliner legendaris yang diminati oleh berbagai kalangan, baik penduduk lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Ambarawa. Kios-kios penjual serabi ini dapat ditemukan berjejer di sepanjang Jalan Raya Magelang-Semarang, khususnya di sekitar Pasar Ngampin, dan biasanya mulai buka dari pukul 08.00 hingga 22.00.